Artikel Ilmiah :

Character Building Sebagai Modal  Menghadapi Tantangan Global

Oleh : B.Suparlan

A.  Kondisi Bangsa Era Global

Bangsa Indonesia seperti halnya dengan bangsa-bangsa lain di dunia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan global. Harus diakui bahwa tantangan itu semakin lama tidaklah semakin ringan, tetapi justru berkembang menjadi semakin kompleks dan semakin beragam. Di sisi lain, globalisasi juga membuktikan bahwa hanya bangsa-bangsa yang memiliki karakter yang kuat dan tangguh akan sanggup menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Bangsa yang kuat dan tangguh juga akan sanggup untuk mengubah berbagai tantangan itu menjadi peluang yang menguntungkan.

Bangsa Indonesia sejatinya adalah bangsa yang memiliki karakter positif yang kuat. Salah satu dari karakter itu adalah semangat kejuangan yang terbukti telah berhasil membawa bangsa ini merebut kemerdekaannya dan tampil sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Oleh karena itu, dewasa ini, di tengah maraknya tantangan pembangunan global yang sangat berat, menjadi kewajiban bagi segenap komponen bangsa untuk saling memberikan pencerahan dan saling berupaya membangun dan menumbuhkembangkan kembali karakter kejuangan itu (Rajasa, M,H. 2009).

Sebuah bangsa akan maju dan jaya bukan disebabkan oleh kekayaan alam, kompetensi, ataupun teknologi canggihnya, tetapi karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Dalam hal ini contohnya antara lain di Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan sebentar lagi di Vietnam. Atau, dapat disimpulkan bahwa bangsa yang didorong oleh karakter bangsanya akan menjadi bangsa yang maju dan jaya. Sementara bangsa yang kehilangan karakter bangsanya akan sirna dari muka bumi (Haynes, C, 2008).

Banyak kalangan yang melihat perkembangan politik, sosial, ekonomi dan budaya di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, kekuatiran itu menjadi semakin nyata ketika menjelajah pada apa yang dialami oleh setiap warganegara, yakni memudarnya wawasan kebangsaan. Pandangan tersebut sungguh wajar, krisis yang dialami oleh Indonesia ini menjadi sangat multi dimensional yang saling mengait. Krisis ekonomi yang tidak kunjung henti berdampak pada krisis sosial dan politik, yang pada perkembangannya justru menyulitkan upaya pemulihan ekonomi. Konflik horizontal dan vertikal yang terjadi dalam kehidupan sosial merupakan salah satu  akibat dari semua krisis yang terjadi, yang tentu akan melahirkan ancaman dis-integrasi bangsa. Apalagi bila melihat bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural seperti beragamnya suku, budaya daerah, agama, dan berbagai aspek politik lainnya, serta kondisi geografis negara kepulauan yang tersebar. Semua ini mengandung potensi konflik latent sosial conflict yang dapat merugikan dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Apabila krisis politik dan krisis ekonomi sudah sampai pada krisis kepercayaan diri, maka eksistensi Indonesia sebagai bangsa (nation) sedang dipertaruhkan. Maka, sekarang ini adalah saat yang tepat untuk melakukan reevaluasi terhadap proses terbentuknya “nation and character building” kita selama ini, karena boleh jadi persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini berawal dari kesalahan dalam menghayati dan menerapkan konsep awal “kebangsaan” yang menjadi fondasi ke-Indonesia-an. Kesalahan inilah yang dapat menjerumuskan Indonesia, seperti yang ditakutkan

Menurut Presiden Sukarno, kemerdekaan adalah “jembatan emas” menuju cita-cita demokrasi, sedangkan pembentukan “nation and character building” dilakukan di dalam prosesnya. Kalau pada suatu saat Sukarno menyatakan bahwa, “revolusi belum selesai,” maka dalam konteks “nation and character building,” pernyataan demikian dapat dimengerti. Artinya, baik “nation” maupun

character” yang dikehendaki sebagai bangsa merdeka belum mencapai standar yang dibutuhkan (Otho, H,H. 2009).

Setiap orang tentu memiliki rasa kebangsaan dan memiliki wawasan kebangsaan dalam perasaan atau pikiran, paling tidak di dalam hati nuraninya. Dalam realitas, rasa kebangsaan itu seperti sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit dipahami(Otho, H,H. 2009). Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa, yakni rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini (Otho, H,H. 2009).

Secara umum, karakter bangsa sering didefinisikan sebagai hal unik dan khas yang menjadi unsur pembeda antara bangsa itu dengan bangsa lainnya. Karakter bangsa memiliki peran penting dalam menentukan kekuatan dan kemampuan bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan. Karakter bangsa adalah unsur penting bagi penyelenggaraan kehidupan berbangsa (Haynes., C., Charles. 2008).

Namun, tampaknya kondisi bangsa saat ini tak terlalu banyak berubah sejak kita mengalami krisis multidimensi hampir sepuluh tahun terakhir. Ironisnya, kini kita juga mengalami krisis akhlak dan moral yang mempunyai dampak berkelanjutan sampai dengan hari ini (Hargens, Boni, 2004). Keterpurukan kita sebagai bangsa saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal dari pengaruh ekonomi global, politik, dan hukum, tetapi yang tak kalah besar pengaruhnya adalah faktor internal. Faktor manusia Indonesia itu sendiri (Yewangoe, Andreas A. 2006).

Di negeri ini cukup banyak ditemukan sosok yang tidak tulus ikhlas , tidak bersungguh-sungguh, senang yang semu, senang yang basa-basi, yang lebih senang memilih budaya ABS (asal bapak senang), yang semua itu sangat merusak karakter individu dan mempunyai implikasi pada rusaknya karakter bangsa. Dalam koridor kebiasaan, masih cukup banyak dikembangkan kebiasaan-kebiasaan yang salah, seperti tidak menepati waktu, ingkar janji, saling menyalahkan, dan mengelak tanggung jawab. Dalam koridor memberi teladan, ternyata dalam kehidupan bermasyarakat kita masih sangat langka adanya teladan.

Di sisi lain, ketidaksanggupan sebuah bangsa dalam melakukan pembinaan karakter warga bangsanya berpotensi untuk menghadirkan beragam masalah dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa (Rajasa, M,H. 2009). Sejumlah kasus dimana pembangunan suatu bangsa mengalami kegagalan, terjadinya perang saudara berkepanjangan, kemiskinan, dan sejumlah masalah domestik lainnya adalah beberapa contoh dampak dari kegagalan pembangunan karakter warga bangsanya. Kegagalan suatu bangsa dalam membangun karakter warga bangsanya bahkan dapat berujung pada runtuhnya eksistensi bangsa itu.

B.  Character Building

Karakter bangsa umumnya bersifat kolektif yaitu akumulasi dari karakter pribadi seluruh warga bangsanya. James Madison, salah satu peletak dasar konstitusi Amerika Serikat, (dalam Rajasa, M,H. 2009) pernah menyatakan bahwa “the character of a nation is determined by the character of its people” atau karakter yang dimiliki suatu bangsa ditentukan oleh karakter warga bangsanya. Komponen utama dari karakter bangsa adalah tata nilai atau values yang dibangun dan ditumbuhkembangkan oleh para warga bangsanya. Oleh karena itu, keberhasilan atau kegagalan sebuah bangsa menjadi sangat tergantung pada upaya pembinaan dan pembangunan karakter warga bangsanya.

Dalam kaitan itu, modalitas nasional yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara maju, harus mengedepankan pembangunan karakter dan watak bangsa yang positif. Upaya pembangunan karakter (character building ) akan menjadikan rakyat Indonesia menjadi kumpulan masyarakat pekerja keras, penuh semangat juang yang tinggi, mampu saling bekerjasama secara produktif dengan sesama warga bangsa, untuk menjadikan bangsanya bangsa yang maju dan berhasil dalam pembangunan (Haynes., C., Charles, 2008).

Haynes, C(2008) menyatakan bahwa character building is a never ending process, yang artinya bahwa pembangunan karakter dilakukan sejak kita masih berupa janin di dalam kandungan sampai saat kita menutup usia. Oleh karena itu, pembangunan karakter dalam kehidupan kita dapat dibagi dalam tiga tahapan pembangunan karakter, yaitu pada usia dini (tahap pembentukan), usia remaja (tahap pengembangan), dan saat dewasa (tahap pemantapan).

Namun, tampaknya kondisi bangsa saat ini tak terlalu banyak berubah sejak kita mengalami krisis multidimensi hampir sepuluh tahun terakhir. Ironisnya, kini kita juga mengalami krisis akhlak dan moral yang mempunyai dampak berkelanjutan sampai dengan hari ini (Hargens, Boni, 2004). Keterpurukan kita sebagai bangsa saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal dari pengaruh ekonomi global, politik, dan hukum, tetapi yang tak kalah besar pengaruhnya adalah faktor internal. Faktor manusia Indonesia itu sendiri (Yewangoe, Andreas A. 2006).

Penampilan dan kinerja seperti yang diuraikan diatas sejatinya menunjukkan manusia Indonesia sebagian telah “hilang” jati dirinya. Karakter bangsa Indonesia yang selama ini dikenal ramah tamah, gotong royong, dan sopan santun berubah menjadi penampilan preman yang beringas dan bengis, yang tega kepada sesamanya, yang tak peduli lagi pada nasib bangsanya. Kenyataan-kenyataan yang sedang kita alami, yang menunjukkan “hilangnya” jati diri individu-individu manusia Indonesia yang berakibat luntur dan rusaknya karakter bangsa Indonesia dan luntur atau “hilang”-nya jati diri bangsa (Yewangoe, Andreas A. 2006).

Pendidikan yang tinggi, kedudukan yang sangat terhormat, beragama pula, tetapi jika karakter yang baik tidak dimiliki, maka segalanya menjadi sia-sia.
Tidak bisa diingkari bahwa rusaknya karakter bangsa mungkin secara tidak langsung disebabkan oleh krisis, tetapi bahwa akar permasalahannya ada pada diri manusia Indonesia itu sendiri. Bukan tidak mungkin apa yang telah kita lakukan selama ini juga merupakan penunjang dari “hilang”-nya jati diri dan rusaknya karakter bangsa. Apabila kita cermati, ternyata sejak 60 tahun terakhir, di Indonesia tidak lagi dilakukan apa yang disebut membangun karakter, bahkan cenderung diabaikan (Soedarsono, H Soemarno. 2006).

Pembentukan karakter pada usia dini sangat krusial dan berarti sangat fundamental karena di sinilah paling tidak ada empat koridor yang perlu dilakukan, yaitu menanam tata nilai, menanam kebiasaan, serta memberi teladan.
Keempat koridor ini dimaksudkan untuk mentransformasikan tata nilai dan membentuk karakter anak pada usia dini sehingga tidak mungkin hanya dilakukan

oleh seorang pembantu. Ironisnya, dalam kehidupan modern ini, pembantu justru menjadi lingkungan (pengaruh) terdekat selama paling tidak 12 jam sehari dan lima hari seminggu. Maka, kita tidak perlu sakit hati bila muncul cibiran yang mengatakan bahwa karakter anak-anak kita justru lebih mirip dengan karakter pembantu.

Pembangunan karakter harus dilanjutkan pada tahap pengembangan pada usia remaja. Sayangnya, lingkungan dan kondisi masyarakat kita sangat tidak kondusif untuk mencapai tujuan pembangunan karakter. Hal ini dapat kita kaji lewat keempat koridor tadi. Koridor tata nilai: berubahnya orientasi tata dari idealisme, harga diri, dan kebanggaan, menjadi orientasi pada uang, materi, duniawi, dan hal-hal yang sifatnya hedonistis. Dalam koridor kebiasaan, masih cukup banyak dikembangkan kebiasaan-kebiasaan yang salah, seperti tidak menepati waktu, ingkar janji, saling menyalahkan, dan mengelak tanggung jawab. Dalam koridor memberi teladan, ternyata dalam kehidupan bermasyarakat kita masih sangat langka adanya teladan (Hargens, Boni, 2004).

Lemahnya kondisi sosial masyarakat yang mendukung tahap pengembangan menyebabkan terganggunya tahap pemantapan. Apa yang akan dimantapkan jika dalam tahap pembentukan dan pengembangan yang tumbuh adalah low trust society (masyarakat yang saling tidak mempercayai, tidak ada saling menghargai) yang menunjukkan tidak terbangunnya karakter secara baik dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara.

Rusaknya karakter bangsa ini salah satu sebab yang menimbulkannya adalah krisis, akan tetapi akar permasalahan dari hal ini ada pada diri manusia sendiri. bukan tidak mungkin apa yang telah kita lakukan selama ini juga merupakan penunjang dan pemicu dari hilangnya identitas dan jati diri bangsa. Rakyat Indonesia tidak lagi memikirkan dan berusaha untuk membangun karakter bangsa ini, bahkan cenderung telah diabaikan (Huntington, Samuel P., 1991 )

Mengembalikan budaya bangsa harus diarahkan pada satu tujuan yang menjadi cita-cita nasional, yaitu tatanan negara yang mengandung nilai,

paradigma, dan perilaku yang unggul. Semua hal itu harus menjadi budaya dalam kehidupan bangsa sehingga dapat mengembalikan jati diri bangsa. Untuk menentukan strategi yang tepat dalam pencapaian tujuan dan mengembalikan jati diri bangsa, terlebih dahulu harus mengenal budaya yang ada di masyarakat Indonesia (Soedarsono, H Soemarno. 2006)

Menurut Rajasa,M.H ( 2009), pembinaan moral dan karakter bangsa sangat terkait erat dengan peningkatan kualitas pembangunan pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu maka pemerintah telah menetapkan bahwa pembangunan pendidikan harus diarahkan pada tiga hal pokok, yaitu: Pertama, pendidikan sebagai sarana untuk membina dan meningkatkan jati diri bangsa untuk mengembangkan seseorang sehingga sanggup mengembangkan potensi yang berasal dari fitrah insani, dari Allah SWT. Pembinaan jati diri akan mendorong seseorang memiliki karakter yang tangguh yang tercermin pada sikap dan perilakunya.  Kedua, pendidikan sebagai media utama untuk menumbuhkembangkan kembali karakter bangsa Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah, bergotong-royong, tangguh, dan santun. Ketiga, pendidikan sebagai tempat pembentukan wawasan kebangsaan, sehingga dapat dibangun masyarakat yang saling mencintai, saling menghormati, saling mempercayai, dan bahkan saling melengkapi satu sama lain, dalam menyelesaikan berbagai masalah pembangunan.

Menjadikan karakter positif bangsa sebagai kekuatan penggerak untuk mendayagunakan modalitas pembangunan secara optimal, tentu harus diikuti dengan komitmen, tekad dan dedikasi seluruh warga bangsa. Program pendidikan dan peningkatan kesejahteraan rakyat yang telah dan sedang dilaksanakan oleh pemerintah merupakan instrumen utamanya, namun di balik itu tetap diperlukan kesediaan seluruh warga bangsa untuk terlibat aktif dan berperan serta dalam setiap upaya pembinaan dan peningkatan kualitas karakter positif bangsa. Dalam kaitan dengan hal di atas, menurut Haynes., C.(2008) setidaknya ada tiga peran penting yang dapat dilakukan oleh setiap warga bangsa dalam mempercepat proses pembinaan karakter positif bangsa. Pertama, selalu terlibat aktif dalam mengajak sesama warga bangsa untuk berperan sebagai pembangun kembali karakter bangsa (character builder). Ketiga, terus saling bekerjasama untuk mendorong para generasi muda agar mampu menjalankan peran sebagai perekayasa karakter (character engineer).

Hal itu dapat dilakukan dengan terus memberikan pencerahan, bimbingan, dan pembinaan kepada para generasi muda kita sehingga mampu melakukan proses pembelajaran adaptif yang akan menyesuaikan perkembangan pembinaan karakter positif bangsa sesuai dengan kemajuan zaman. Pembangunan karakter juga perlu dilakukan sejak dini melalui proses pembelajaran di sekolah.

Pembangunan karakter harus dilanjutkan pada tahap pengembangan pada usia remaja. Sayangnya, lingkungan dan kondisi masyarakat kita sangat tidak kondusif untuk mencapai tujuan pembangunan karakter. Hal ini dapat kita kaji lewat berbagai koridor. Koridor tata nilai: berubahnya orientasi tata dari idealisme, harga diri, dan kebanggaan, menjadi orientasi pada uang, materi, duniawi, dan hal-hal yang sifatnya hedonistis.Dalam koridor kebiasaan, masih cukup banyak dikembangkan kebiasaan-kebiasaan yang salah, seperti tidak menepati waktu, ingkar janji, saling menyalahkan, dan mengelak tanggung jawab. Dalam koridor memberi teladan, ternyata dalam kehidupan bermasyarakat kita masih sangat langka adanya teladan.

Mengajak generasi muda tampil memiliki jati diri dan siap menjadi pemimpin yang berkarakter, siap menggemakan semangat bangkit dari keterpurukkan, siap menggelorakan semangat Sumpah Pemuda yang berarti menggelorakan diwujudkan bertumbuhkembangnya karakter dan jati diri bangsa secara nyata sebagai upaya menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk kemudian menjadi bangsa yang maju dan jaya.
Kapan kita akan memulai perubahan? Ada kata bijak: apabila kita ingin merancang pemikiran jangka panjang adalah tidak berpikir apa yang akan kita lakukan besok, tetapi berpikir apa yang dapat diperbuat hari ini, sekarang ini untuk bisa mendapatkan hari esok.

Dewasa ini terjadi kondisi yang mengarah pada rusaknya karakter bangsa. Rusaknya karakter bangsa ini salah satu sebab yang menimbulkannya adalah krisis, akan tetapi akar permasalahan dari hal ini ada pada diri manusia sendiri. bukan tidak mungkin apa yang telah kita lakukan selama ini juga merupakan penunjang dan pemicu dari hilangnya identitas dan jati diri bangsa. Sebagian rakyat Indonesia tidak lagi memikirkan dan berusaha untuk membangun karakter bangsa ini, bahkan cenderung telah diabaikan.

Dewasa ini sering kita lihat adanya perilaku sebagian siswa dan guru yang menyimpang dari nilai-nilai jati diri bangsa. Indikator dari penyimpangan tersebut antara lain : rendahnya karakter kejuangan, bukan sebagai pekerja keras, semangat kemandirian  yang rendah, kurang mampu bekerjasama secara produktif, dan kurangnya kebersamaan sosial.

Lembaga pendidikan baik formal maupun non formal sebagai suatu sistem dapat berpengaruh terhadap pembentukan sikap, karena dalam proses pembelajarannya juga menekankan pada aspek moral dan sikap. Oleh karena itu, pada saatnya nanti hasil pembelajaran tersebut dapat menentukan sikap independen atau kelompok terhadap hal tertentu .Keberhasilan dalam merubah sikap di samping dipengaruhi oleh pribadi yang hendak dirubah, juga tergantung pada kemampuan persuasif individu (model manusia) yang ingin membantu merubahnya (Gagne, 1984).

Menurut Gagne (1984) salah satu metode yang dapat diandalkan dalam perubahan sikap adalah model manusia. Dalam pembelajaran ini belajar merupakan hasil dari meniru perilaku orang yang dijadikan model atau lebih tepat meniru pilihan tindakannya. Dasar desain untuk memodel manusia ini menurut Gagne  adalah sebagai berikut: “Seseorang yang dikagumi, dihormati, atau dipandang memiliki kredibilitas diamati (oleh satu atau beberapa siswa) untuk menampilkan tingkah laku tertentu atau melakukan pilihan tindakan pribadi tertentu”.

Penerapan metode human modeling dalam character building  dan dalam kegiatan pembelajaran  dapat dilaksanakan secara demonstrasi, peragaan, atau komunikasi terhadap pilihan yang diinginkan terhada p tindakan pribadi (sikap) oleh seseorang yang dihormati atau dikagumi. Orang yang dijadikan model bisa orang tua, guru, tokoh yang terkenal, atau populer, atau setiap orang yang dapat membangkitkan kepercayaan dan signifikan dapat dipercaya.